PENGGUNAAN
ICT DALAM PEMBELAJARAN BAHASA
Abstrak
ICT sebagai media pengajaran menjadi semakin
dikenal. Melalui makalah ini harapan kami untuk bisa berbagi tentang aspek
penggunaan ICT dapat membuktikan dan
merangsang siswa dan guru dalam proses pembelajaran. Focus kami adalah tentang
bagaimana penggunaan Web sebagai pusat pembelajaran siswa, pengembangan
motivasi siswa, kreatifitas materi pembelajaran , meningkatkan kebersamaan.
Menganalisa segala perbedaan pembalajaran yang lalu dengan yang sekarang, maka
akan ditemukan cara yang berbeda untuk memotivasi siswa dalam mengembangkan
materi pembelajaran yang berupa data base pada penelitian spesifik, presentasi
power point dan kamus on line.
Dalam makalah ini menganalisa bagaimana solusi ICT
dapat digunakan sebagai pendukung pada aktifitas kelas yang beragam, kerja
kelompok dan tugas-tugas kerja berpasangan.
I.
Pendahuluan
ICT sebagai media
pembelajaran semakin diakui keberadaan dan penggunaan serta pemanfaatannya.
Dalam makalah ini membahas penggunaan ICT yang telah membuktikan dan
menstimulasi guru dan murid-murid secara positif. Pemaparan dalam penggunaan media e-learning untuk pengajaran bahasa inggris
pada tingkatan-tingkatan yang berbeda, untuk terminologi pembelajaran dan ESP (English
for Specific Purpose). Fokus dalam makalah ini adalah bagaimana Web dapat
digunakan untuk mendukung proses pembelajaran siswa, pengembangan motivasi
siswa, kerjasama dalam menciptakan materi pembelajaran, seiring pengembangan
rasa ”kekamian” dan kepemilikan bersama. Mencari perbedaan pembelajaran masa
lalu dan masa kini, maka akan mengetahui perbedaan cara memotivasi siswa dengan
melibatkan mereka pada bangunan(penyusunan) pembelajaran.
ICT membantu siswa
menemukan nilai dalam pembelajaran melalui berbagai macam instruksi dan
alternatif-alternatif penugasan yang autentik yang berstandar tinggi atas
performance siswa dilingkungannya yang mendorong siswa untuk melakukan
pekerjaan yang terbaik dan efektif, dalam pengawasan guru akan membantu pengembangan
tingkat motivasi siswa.
Beberapa tahun lalu
Universitas Tartu mulai mengorganisir e-learning yang disebur ”coffee with
e-learning” (minum kopi sambil belajar menggunakan e-learning). Hal ini
berdasarkan contoh dari Skandinavia. Solusi ICT diajarkan dengan dukungan staff
IT yang menjadi tutor pengajaran selama berlangsungnya pembelajaran.
Dalam pembelajaran
bahasa, dukungan kependidikan dan tutorial yang ada dapat dijadikan dalam
mengkreasikan lingkungan pembelajaran e-learning untuk pembelajaran Bahasa
secara umum dalam Bahasa yang berbeda pada tingkatan yang berbeda, seperti
untuk istilah pembelajaran dan ESP dalam ranah spesialisasi yang berbeda. Pada
waktu yang bersamaan, ICT menjadikan kita mungkin untuk mengembangkan
pembelajaran yang berpusat pada siswa secara individual dan mendukung
pembentukan rasa kepemilikan dalam suatu komunitas dimanapun.
II.
Dasar
Teori dan Pembahasan
Dalam artikel ini akan
membahas tentang beberapa engalaman mengajar menggunakan ICT. Berikut akan
diulas tentang bagaimana ICT digunakan dapat proses pembelajaran :
1. Motivasi Siswa dan E-learning
ICT mendukung prinsip
pembelajaran modern. Kemahiran berbahasa sebagai interaksi pribadi dan motivasi
siswa. Theobald (2006: 1) menggaris bawahi beberapa siswa membutuhkan alat yang
instrinsik untuk mengembangkan motivasi mereka. Motivasi instrinsik adalah
”tujuan yang diungkapkan oleh para pendidik untuk siswa mereka”. Bagaimana
siswa mencapainya? Biasanya motivasi instrinsik disertakan untuk penemuan nilai
yang siswa lakukan. Theobald (2006:1) menyimpulkan: membantu siswa menemukan
nilai dalam pembelajaran melalui implementasi dari berbagai macam instruksi dan
alternative-alternatif pilihan serta bentuk penugasan yang autentik, sementara
memelihara standart performa siswa pada suatu lingkungan yang mendorong mereka
untuk melakukan kerja terbaiknya dengan efektif, guru yang mengasuh tidak
sekedar mentransfer ilmu, akan membantu mengembangkan tingkatan motivasi siswa.
Dörnyei
and Otto (1998:65) memberikan definisi tentang motivasi L2 (bahasa kedua/
bahasa asing). Pada umumnya, motivasi dapat didefinisikan sebagai perubahan
kumulatif yang dinamis yang muncul pada
seseorang yang memprakarsai, secara langsung, menyelaraskan, menguatkan,
mengakhiri dan mengevaluasiproses kognitive dan motoric yang bermula
harapan-harapan dan hasrat yang menjadi pilihan prioritas, dilaksanakan dan
tindakan.
Hasanbegovic (2005) telah mereview sebuah studi pada
pengaruh motivasi e-learning pada penugasan computer yang autentik oleh Martens
et al 2004. Studi-nya menyimpulkan bahwa : searah dengan teori
motivasi Ryan dan Deci diprediksi dan dibuktikan bahwa memotivasi siswa secara
instrisik untuk melakukan lebih pada periode waktu yang tepat sebagai hasil
dari usaha yang lebih dan ketekunan serta melakukan hal yang berbeda pada hal
yang berkenaan dengan computer yang
membiarkan mereka untuk bebas memilih (Hasanbegovic, 2005).
Sebuah keseimbangan yang baik pada lingkungan ICT
akan membuat para siswa mampu merasakannya dan tetap termotivasi melalui proses
pembelajaran. Motivasi secara individual, pembelajaran dalam suasana dan
aktifitas siswa sering menjadi bagian dan satu paket pda keberhasilan dukungan
ICT.
2. Berbagi Peran: tanggung jawab pelajar
dan peran guru.
Aspek yang sama
pentingnya adalah tanggungjawab siswa dengan kapasitasnya untuk bermimpi dan
dan mengejar tujuannya. Siswa modern khususnya pada tingkatan universitas,
harus tahu mengapa dan apa yang dibutuhkan dalam belajar, dan mampu merancang
dan tetap berada pada jalur rencana belajarnya. Wilson (1981:61) menggaris
bawahi bahwa perkembangan siswa pada masa di universitas dapat dilihat sebagai
berikut : Satu pandangan bahwa pertumbuhan siswa berlangsung pada sebuah
tingkatan invariant yang berbeda dimana progress dari tingkatan ke tingkatan
mengimplikasikan sebuah penataan kembali dan pengorganisasian kembali dari yang
ada sebelumnya. Pada tingkatan yang lebih tinggi secara kualitas berbeda dari
tingkatan yang lebih rendah dalam hal cara berfikir siswa secara pribadi,
perasaan atau tingkah lakunya. Sisi manfaat lainnya adalah bahwa perkembangan
siswa dapat dilihat pada rangkaian penugasan yang melibatkan kedewasaan pribadi
pada aspek intelektual yang berbeda, emosi dan hubungan social.
Saat ini peran guru
adalah sebagai penasehat, seorang ahli dalam bidang yang mempunyai tugas untuk
mendukung pengembangan siswa. “design and control the study process” concepts.
Dörnyei (2001: 35) menyatakan : Guru adalah seorang
motivator social yang kuat. Menjadi pemimpin yang merancang kegiatan ruang
kelas, mewujudkan dari suara hati kelompok, symbol dari kesatuan dan identitas
kelompok, dan melayani sebagai contoh.
Day and Sachs (2004: 7) mengindikasikan bahwa inti dari
profesional demokratis adalah perhatian pada aksi kolaborasi, kerjasama Antara
guru dan stakeholder pendidikan yang lain.
Kiggins and Cambourne (2007: 368-379) menekankan pada
pentingnya “triadic partnership” pada guru muda. Kiggins dan Cambourne (ibid)
menekankan pula bahwa kepercayaaan menjadi sebuah elemen penting dalam proses
pembentukan ilmu pengetahuan.
Seperti halnya yang dinyatakan Day and Sachs (2004:7) bahwa
guru mempunyai tanggungjawab yang lebih luas di kelas dan kontibusinya pada
sekolahan, sistem, siswa lainnya, komunitas yang lebih luas dan tanggungjawab
bersama bagi guru sebagai sebuah kelompok dan profesi yang lebih luas.
Mereka juga berfungsi sebagai seorang penyemangat
emosional siswa dari kelompok yang mempunyai bandingan dan contoh yang
mengkritisi mobilitas kelompok. Perbincangan sederhana dengan siswa dapat
menjadi alat memandu secara langsung
memberi energi untuk memotivasi siswa.
3. Konsep pembelajaran dalam situasi
khusus
Berbagai kemungkinan untuk
ICT. Penulis beranggapan bahwa ICT dan solusi pembelajaran menggunakan web
menawarkan kepada para siswa untuk membuat proses pembelajaran lebih menarik
dan menantang. Beberapa diantaranya adalah atraktif dan aktusiasme tinggi
dimana dipilih sebagai penyajian yang berupa video games.
J P Gee (2009)
menyatakan bahwa: prinsip-prinsip berikut ini berhubungan dengan
prinsip-prinsip pengharapan pembelajaran aktif. Hanya saja jika para siswa
memperoleh dan mencoba dan menguji muatan konsep pada situasi mengajar dan
menguji arti nyata bahwa pembelajaran tengah terjadi. Tanpa hal itu para siswa terlihat
mampu menyelesaikan test menggunakan pen dan kertas dengan tampaknya sempurna.
Bagaimanapun pada tes berikutnya yang berkaitan, mereka membuktikan tidak mampu
menyelesaikan permasalahan sebenarnya (cf. Gardner 1991, in Gee 2009:15)
Anggapan bahwa
solusi ICT dan web-based learning
menawarkan para siswa berkemungkinan membuat proses pembelajaran lebih menarik
dan menantang. Beberapa berkapasitas proses pembelajaran atraktif dan menarik
antusiasme siswa dengan penyajian video games.
4. Pengalaman penggunaan ICT dalam
pengajaran kursus bahasa dan ESP.
Penampilan umum dari
web-based courses dan tujuan utama penggunaan ICT; menciptakan kamus online,
presentasi power point, aktifitas tambahan di ruang kelas,
Solusi Web-based
mengintegrasikan pembelajaran kelas; penggunaan multimedia, mengemukakan serta
sharing latar belakang masalah melalui Web.
Tujuan utama penggunaan
ICT adalah untuk mendukung pembelajaran dan perolehan kosakata baru dalam
pembelajaran Bahasa inggris, menampilkan opini seseorang dan mampu untuk
mengekspresikannya pada isu topic pada bidang tertentu. Hal ini dapat dilakukan
dengan cara yang berbeda , contohnya penggunaan solusi diantaranya: latihan
vocabularies on-line pada teks yang yang dibaca dan didiskusikan di kelas,
secara pribadi dapat pula digunakan untuk mengoreksi latihan grammar, kamus
on-line mengkreasikan oleh siswa setahap demi setahap, latihan demi latihan,
informasi tentang rancangan yang berbeda, e-mail, forum, ujian on-line, rencana
pelatihan, penanggalan penting, menciptakan kamus on-line, power point
presentasi, dll.
5. Keuntungan-keuntungan
menggunakan e-learning sebagai pendukung pembelajaran di kelas;
a) E-learning
sebagai pendukung pembelajaran kelas.
ICT sebagai pendukung pembelajaran
didalam kelas pada umumnya, yang diantaranya mempunyai keuntungan sebagai
berikut:
-
Mudah mengakses dimanapun dan kapanpun
berada.
-
Memanfaatkan sedikit kertas yang berarti
akan semakin banyak pohon.
-
Dapat memungkinkan menggunakan metode
modern.
-
Secara individu dapat menentukan
ketertarikan, level dan kebutuhan yang berbeda
b) Dimensi etika penggunaan Bahasa
Di setiap negara dan budaya
masing-masing mempunyai etika berbicara yang berbeda, tentang intonasi dan
penggunaan (pemilihan) kata yang tepat. Dalam pribahasa China “guru yang
membuka pintu, tetapi kamu harus memasukinya sendiri.” Tugas guru adalah untuk
mendorong siswa. Tidak hanya kosakata yang baru yang diajarkan namun juga sebuah
pelatihan bahasa yang baik yang harus diberikan pada peserta didik. Hal ini
menjadi pertimbangan bahwa kesiapan informasi dan perolehan berita pada siswa
kita melalui Bahasa yang baru bagi mereka memberi mereka sebuah kesempatan
untuk diberitahukan dan membentuk opini mereka pada topic yang penting yang
berkaitan tentang masyarakat kita. Banyak ahli sosiologi terkenam dan meneliti
( contohnya Cronin 2002, Pym 2005) telah
menekankan bahwa tidak cukup hanya dengan “mempunyai” sebuah opini namun
seseorang yang terdidik juga harus “mengekspresikannya pada bentuk masyarakat
dimana kita tinggal”. Memang banyak ilmu pengetahuan dan pemikiran di era
modern dimana penggunaan Jaringan (Web) dubia dikaitkan pada siapa yang
mempunyai informasi pertama kali. Dan siapa yang lain yang harus didukung untuk
mempelajarinya, untuk menggunakannya, untuk kapasitas terbaiknya dan semua
prinsip etika yang mengikuti pada siswa yang belajar Bahasa asing tersebut.
Yang dibanyak cara menjadi panutan dalam masyarakatnya atau budayanya.
c) Bangunan
kepercayaan
Anatole France mengatakan “
sembilan dari sepuluh tentang pendidikan adalah dorongan semangat”. Tidak akan
ada dorongan semangat tanpa adanya kepercayaan (cf. Kiggins and Cambourne
2007:374 in 2.2). seperti halnya pengajaraan pada umumnya, e-learning dapat
diorganisir dengan cara yang berbeda. Misalnya: lingkungan kesiapan yang
diciptakan guru, kendali guru, pengisian jawaban oleh siswa, perolehan nilai
(bahwa guru dapat menggendalikan computer siswa ketika bekerjasama pada computer
dikelas). Yang bertentangan dengan hal ini bahwa harus memilih pelatihan pada
prinsip kepercayaan. Kita percaya bahwa para siswa dapat me-manage hampir semua
proses pembelajarannya secara dewasa.
d) Pembentukan
rasa kebersamaan
Pada pendidikan ditempat lain,
mengembangkan kerjasama dan melalaikan kekakuan menjadi semakin terlatih menjadi biasa. Seperti
pendekatan yang membantu siswa untuk memperoleh motivasi. Cocea and Weibelzahl
(2006:2-3) menggarisbawahi kaitan Antara e-learning san Social Cognitive Learning
Theory SCT (teori pembelajaran masyarakat/social). Dalam sudut pandangnya,
kepribadian adaptasi tutorial yang efektif dan pembelajaran kolaborasi,
motivasi yang sangat baik pada semua aspek juga menekankan pada meningkatkan
kepuasan siswa dan kualitas belajar.
Kepribadian bertujuan untuk membuat
pembelajaran lebih efektif dan memuaskan dengan adaptasi kebutuhan dan pilihan siswa. Diantara manfaat
motivasi siswa adalah: mempertinggi motivasi dan keterlibatan, penguasaan siswa
yang membuat mereka lebih bertanggung jawab dan aktif, mengembangkan kepuasan
kualitas pembelajaran yang lebih baik dan lain-lain.
SCT juga sesuai dengan pembelajaran
kolaborasi, memberi kerangka kerja social pada pengambilan pertimbangan melalui
teori dan cara pembelajaran ini yang dipengaruhi oleh konteks social. Agak
berlawanan terhadap apa yang kadang diharapkan dari web-berbasis lingkungan,
pengalaman memperlihatkan bahwa web-berbasis lingkungan seringkali berhubungan
dengan siswa dalam kelompok. Menawarkan mereka kemungkinan untuk berkomunikasi
pada sebuah lingkungan yang alami untuk mereka, pelatihan berbasis web, jika
membangun pada sebuah cara bahwa kemampuan siswa untuk berpartisipasi dan
terbuka. Hal ini juga menyediakan untuk bergabung pada terminology yang berbeda,
group parallel yang berbeda (contohnya: grup A dan grup B belajar pada subyek
yang sama), siswa yang berbeda tingkatan tahun belajar pada subyek yang sama. Hal
ini dapat menjadi pendukung melalui bantuan siswa menciptakan database bersama.
pada permasalahannya bahwa perbedaan presentasi powerpoint dalam menciptakan
pembelajaran pada tahun yang berbeda pada kelompok parallel. Penganalisaan pelajaran
yang telah berlangsung dan saat ini dapat dilihat bahwa Web berbasis lingkungan
dapat membantu mengembangkan rasa kepemilikan bersama. Dalam tambahan untuk
aktifitas pembelajaran yang biasa yang telah disebutkan diatas, dapat dilakukan
melalui dokumentasi kegiatan yang berbeda, seperti belajar kunjungan atau
mengunjungi museum, kelompok belajar dapat share, berdiskusi dan menganalisa
hasilkunjungan melalui Web, yang juga mengembangkan rasa kebersamaan. Hal itu
dapat juga dilakukan untuk berbagi informasi tentang diri mereka masing-masing
melalui group. Siswa dapat berbagai banyak informasi secara digital sehingga
bisa dijadikan landasan untuk sebuah hubungan baik dalam kelas. Penting untuk
diingat bahwa ICT dapat juga membantu menciptakan “jembatan” khusus Antara periode
belajar, tahun belajar yang berbeda dan kelompok belajar yang berbeda dan
membantu mempertajamperasaan “kekamian”.
III.
Kesimpulan
Gunnar Handahl
(2004,2007) menggaris bawahi pentingnya dimensi pendidikan; level 1:
beraksi(berangkat dan mengajar), level 2: teori dan praktek (alasan mengajar,
latar belakang, pengetahuan pedagogi, kemampuan metodologis, pengalaman sebagai
guru, pengalaman mentransfer ilmu), level 3; nilai (dasar pembenaran etika dan
politik).
Selama bertahun-tahun
dalam pelaksanaan belajar mengajar sebagai seorang guru dalam kelompok belajar
yang berbeda, partisipasi para peserta juga membantu menganalisa dan membentuk
proses. Harapannya, bersandar pada teori yang lebih dalam, prinsip-prinsip dan
etika-etika dapan mensuport siswa dalam membuat pilihan yang penuh arti.
Dengan pengembangan Web
2.0 and 3.0 masih saja untuk para novelis, pengembangan dan perubahan yang
tidak ada habis-habisnya. Siswa semakin menjadi bertaut,komunikasi dan
pembelajaran teacher center semakin berkurang. Dalam perkembangannya peran para
guru, para siswa, dan pembelajaran itu sendiri secara berkelanjutan berubah
untuk menggantikan metode pembelajaran yang ada untuk perkembangan lebih jauh.
Banyak dari perkembangan ini ditemukan pada proses kerjasama dengan para siswa
dan para praktisi pendidikan dari seluruh dunia.
Harapannya, pendekatan
student-center berdasarkan kepribadian, pengembangan motivasi siswa, dan
tanggungjawab dapat di dukung dengan cara ini.
IV.
REFERENSI
Cocea,
M. & Weibelzahl, S. (2006). Motivation – included or excluded from
e-learning.
Cronin,
M. (2002). The Empire Talks Back: Orality, Heteronomy and the Cultural Turn in
Interpreting Studies. In F.
Day,
C. & Sachs, J. (2004). Professionalism, performativity and empowerment:
discourses in the politics, policies and purposes of continuing professional
development. In: Day, C, Sachs, J. (Eds.), International Handbook on the Continuing
Professional Development of Teachers. Open University Press. UK, Bell&
Brain Ltd, Glasgow. 3-33.
Dörnyei,
Z. (2001a). Teaching and Researching Motivation. Pearson Education Limited.
Malaysia, LSP.
Dörnyei,
Z. (2001b). Motivational Strategies in the Language Classroom. Cambridge
University Press. UK.
Dörnyei,
Z & Otto, I. (1998). Motivation in action: A process model of L2
motivation. Working Papers in Applied Linguistics (London: Thames Valley
University), 4: 43-69.
Gardner,
H. (1991). The unschooled mind. How children think and how schools should
teach. New York: Basic Books.
Gee,
J. P. (2008). Är videospel bra vid inlärning? / Are videogames good for
knowledge acquisition?/ In: Kulturens Studia Generalia. Svenska kulturfonden.
Oy Nord Print. 8-23.
Handahl,
G. (2004/2007). Ethics of Teaching in Higher Education. Teacher trainer
courses: Teaching in Higher Education given at Tartu University. Oslo
University-Tartu University. University of Tartu, 2004-2007.
Hasanbegovic,
J. (2005). Review of Martens, R. L et al (2004). The impact of intrinsic
motivation on e-learning in authentic computer tasks. Journal of Computer
Assisted Learning, Vol. 20, pp. 368–376.
Kiggins,
J. & Cambourne, B. (2007). The knowledge building community program. In: T.
Townsend, R. Bates (Eds.),
Pym,
A. (2005). Action Research in Translation Studies. Paper presented at the
conference New Research in
Theobald,
M. (2006). Increasing Student Motivation. Strategies for Middle and High School
Teachers. Corwin Press. A SAGE Publications Company, Thousand Oaks, California.
Springer,
printed in the Netherlands. 3-25.
Wilson,
J. D. (1981). Student Learning in Higher Education. Croom Helm London. New York
– Toronto.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar