Senin, 13 Januari 2014

Penggunaan ICT Dalam Pembelajaran Bahasa



PENGGUNAAN ICT DALAM PEMBELAJARAN BAHASA

Abstrak
ICT sebagai media pengajaran menjadi semakin dikenal. Melalui makalah ini harapan kami untuk bisa berbagi tentang aspek penggunaan ICT  dapat membuktikan dan merangsang siswa dan guru dalam proses pembelajaran. Focus kami adalah tentang bagaimana penggunaan Web sebagai pusat pembelajaran siswa, pengembangan motivasi siswa, kreatifitas materi pembelajaran , meningkatkan kebersamaan. Menganalisa segala perbedaan pembalajaran yang lalu dengan yang sekarang, maka akan ditemukan cara yang berbeda untuk memotivasi siswa dalam mengembangkan materi pembelajaran yang berupa data base pada penelitian spesifik, presentasi power point dan kamus on line.
Dalam makalah ini menganalisa bagaimana solusi ICT dapat digunakan sebagai pendukung pada aktifitas kelas yang beragam, kerja kelompok dan tugas-tugas kerja berpasangan.
                              I.            Pendahuluan
ICT sebagai media pembelajaran semakin diakui keberadaan dan penggunaan serta pemanfaatannya. Dalam makalah ini membahas penggunaan ICT yang telah membuktikan dan menstimulasi guru dan murid-murid secara positif.  Pemaparan dalam penggunaan media  e-learning untuk pengajaran bahasa inggris pada tingkatan-tingkatan yang berbeda, untuk terminologi pembelajaran dan ESP (English for Specific Purpose). Fokus dalam makalah ini adalah bagaimana Web dapat digunakan untuk mendukung proses pembelajaran siswa, pengembangan motivasi siswa, kerjasama dalam menciptakan materi pembelajaran, seiring pengembangan rasa ”kekamian” dan kepemilikan bersama. Mencari perbedaan pembelajaran masa lalu dan masa kini, maka akan mengetahui perbedaan cara memotivasi siswa dengan melibatkan mereka pada bangunan(penyusunan) pembelajaran.
ICT membantu siswa menemukan nilai dalam pembelajaran melalui berbagai macam instruksi dan alternatif-alternatif penugasan yang autentik yang berstandar tinggi atas performance siswa dilingkungannya yang mendorong siswa untuk melakukan pekerjaan yang terbaik dan efektif, dalam pengawasan guru akan membantu pengembangan tingkat motivasi siswa.
Beberapa tahun lalu Universitas Tartu mulai mengorganisir e-learning yang disebur ”coffee with e-learning” (minum kopi sambil belajar menggunakan e-learning). Hal ini berdasarkan contoh dari Skandinavia. Solusi ICT diajarkan dengan dukungan staff IT yang menjadi tutor pengajaran selama berlangsungnya pembelajaran.
Dalam pembelajaran bahasa, dukungan kependidikan dan tutorial yang ada dapat dijadikan dalam mengkreasikan lingkungan pembelajaran e-learning untuk pembelajaran Bahasa secara umum dalam Bahasa yang berbeda pada tingkatan yang berbeda, seperti untuk istilah pembelajaran dan ESP dalam ranah spesialisasi yang berbeda. Pada waktu yang bersamaan, ICT menjadikan kita mungkin untuk mengembangkan pembelajaran yang berpusat pada siswa secara individual dan mendukung pembentukan rasa kepemilikan dalam suatu komunitas dimanapun.
                           II.            Dasar Teori dan Pembahasan
Dalam artikel ini akan membahas tentang beberapa engalaman mengajar menggunakan ICT. Berikut akan diulas tentang bagaimana ICT digunakan dapat proses pembelajaran :
1.         Motivasi Siswa dan E-learning
ICT mendukung prinsip pembelajaran modern. Kemahiran berbahasa sebagai interaksi pribadi dan motivasi siswa. Theobald (2006: 1) menggaris bawahi beberapa siswa membutuhkan alat yang instrinsik untuk mengembangkan motivasi mereka. Motivasi instrinsik adalah ”tujuan yang diungkapkan oleh para pendidik untuk siswa mereka”. Bagaimana siswa mencapainya? Biasanya motivasi instrinsik disertakan untuk penemuan nilai yang siswa lakukan. Theobald (2006:1) menyimpulkan: membantu siswa menemukan nilai dalam pembelajaran melalui implementasi dari berbagai macam instruksi dan alternative-alternatif pilihan serta bentuk penugasan yang autentik, sementara memelihara standart performa siswa pada suatu lingkungan yang mendorong mereka untuk melakukan kerja terbaiknya dengan efektif, guru yang mengasuh tidak sekedar mentransfer ilmu, akan membantu mengembangkan tingkatan motivasi siswa.
Dörnyei and Otto (1998:65) memberikan definisi tentang motivasi L2 (bahasa kedua/ bahasa asing). Pada umumnya, motivasi dapat didefinisikan sebagai perubahan kumulatif  yang dinamis yang muncul pada seseorang yang memprakarsai, secara langsung, menyelaraskan, menguatkan, mengakhiri dan mengevaluasiproses kognitive dan motoric yang bermula harapan-harapan dan hasrat yang menjadi pilihan prioritas, dilaksanakan dan tindakan.
Hasanbegovic (2005) telah mereview sebuah studi pada pengaruh motivasi e-learning pada penugasan computer yang autentik oleh Martens et al 2004. Studi-nya menyimpulkan bahwa : searah dengan teori motivasi Ryan dan Deci diprediksi dan dibuktikan bahwa memotivasi siswa secara instrisik untuk melakukan lebih pada periode waktu yang tepat sebagai hasil dari usaha yang lebih dan ketekunan serta melakukan hal yang berbeda pada hal yang berkenaan dengan computer yang  membiarkan mereka untuk bebas memilih (Hasanbegovic, 2005).
Sebuah keseimbangan yang baik pada lingkungan ICT akan membuat para siswa mampu merasakannya dan tetap termotivasi melalui proses pembelajaran. Motivasi secara individual, pembelajaran dalam suasana dan aktifitas siswa sering menjadi bagian dan satu paket pda keberhasilan dukungan ICT.     
2.         Berbagi Peran: tanggung jawab pelajar dan peran guru.
Aspek yang sama pentingnya adalah tanggungjawab siswa dengan kapasitasnya untuk bermimpi dan dan mengejar tujuannya. Siswa modern khususnya pada tingkatan universitas, harus tahu mengapa dan apa yang dibutuhkan dalam belajar, dan mampu merancang dan tetap berada pada jalur rencana belajarnya. Wilson (1981:61) menggaris bawahi bahwa perkembangan siswa pada masa di universitas dapat dilihat sebagai berikut : Satu pandangan bahwa pertumbuhan siswa berlangsung pada sebuah tingkatan invariant yang berbeda dimana progress dari tingkatan ke tingkatan mengimplikasikan sebuah penataan kembali dan pengorganisasian kembali dari yang ada sebelumnya. Pada tingkatan yang lebih tinggi secara kualitas berbeda dari tingkatan yang lebih rendah dalam hal cara berfikir siswa secara pribadi, perasaan atau tingkah lakunya. Sisi manfaat lainnya adalah bahwa perkembangan siswa dapat dilihat pada rangkaian penugasan yang melibatkan kedewasaan pribadi pada aspek intelektual yang berbeda, emosi dan hubungan social.
Saat ini peran guru adalah sebagai penasehat, seorang ahli dalam bidang yang mempunyai tugas untuk mendukung pengembangan siswa. “design and control the study process” concepts.
Dörnyei (2001: 35) menyatakan : Guru adalah seorang motivator social yang kuat. Menjadi pemimpin yang merancang kegiatan ruang kelas, mewujudkan dari suara hati kelompok, symbol dari kesatuan dan identitas kelompok, dan melayani sebagai contoh.
Day and Sachs (2004: 7) mengindikasikan bahwa inti dari profesional demokratis adalah perhatian pada aksi kolaborasi, kerjasama Antara guru dan stakeholder pendidikan yang lain.
Kiggins and Cambourne (2007: 368-379) menekankan pada pentingnya “triadic partnership” pada guru muda. Kiggins dan Cambourne (ibid) menekankan pula bahwa kepercayaaan menjadi sebuah elemen penting dalam proses pembentukan ilmu pengetahuan.
Seperti halnya yang dinyatakan Day and Sachs (2004:7) bahwa guru mempunyai tanggungjawab yang lebih luas di kelas dan kontibusinya pada sekolahan, sistem, siswa lainnya, komunitas yang lebih luas dan tanggungjawab bersama bagi guru sebagai sebuah kelompok dan profesi yang lebih luas.
Mereka  juga berfungsi sebagai seorang penyemangat emosional siswa dari kelompok yang mempunyai bandingan dan contoh yang mengkritisi mobilitas kelompok. Perbincangan sederhana dengan siswa dapat menjadi alat memandu secara  langsung memberi energi untuk memotivasi siswa.
3.         Konsep pembelajaran dalam situasi khusus
Berbagai kemungkinan untuk ICT. Penulis beranggapan bahwa ICT dan solusi pembelajaran menggunakan web menawarkan kepada para siswa untuk membuat proses pembelajaran lebih menarik dan menantang. Beberapa diantaranya adalah atraktif dan aktusiasme tinggi dimana dipilih sebagai penyajian yang berupa video games.
J P Gee (2009) menyatakan bahwa: prinsip-prinsip berikut ini berhubungan dengan prinsip-prinsip pengharapan pembelajaran aktif. Hanya saja jika para siswa memperoleh dan mencoba dan menguji muatan konsep pada situasi mengajar dan menguji arti nyata bahwa pembelajaran tengah terjadi. Tanpa hal itu para siswa terlihat mampu menyelesaikan test menggunakan pen dan kertas dengan tampaknya sempurna. Bagaimanapun pada tes berikutnya yang berkaitan, mereka membuktikan tidak mampu menyelesaikan permasalahan sebenarnya (cf. Gardner 1991, in Gee 2009:15)
Anggapan bahwa solusi  ICT dan web-based learning menawarkan para siswa berkemungkinan membuat proses pembelajaran lebih menarik dan menantang. Beberapa berkapasitas proses pembelajaran atraktif dan menarik antusiasme siswa dengan penyajian video games.
4.         Pengalaman penggunaan ICT dalam pengajaran kursus bahasa dan ESP.
Penampilan umum dari web-based courses dan tujuan utama penggunaan ICT; menciptakan kamus online, presentasi power point, aktifitas tambahan di ruang kelas,
Solusi Web-based mengintegrasikan pembelajaran kelas; penggunaan multimedia, mengemukakan serta sharing latar belakang masalah melalui Web.
Tujuan utama penggunaan ICT adalah untuk mendukung pembelajaran dan perolehan kosakata baru dalam pembelajaran Bahasa inggris, menampilkan opini seseorang dan mampu untuk mengekspresikannya pada isu topic pada bidang tertentu. Hal ini dapat dilakukan dengan cara yang berbeda , contohnya penggunaan solusi diantaranya: latihan vocabularies on-line pada teks yang yang dibaca dan didiskusikan di kelas, secara pribadi dapat pula digunakan untuk mengoreksi latihan grammar, kamus on-line mengkreasikan oleh siswa setahap demi setahap, latihan demi latihan, informasi tentang rancangan yang berbeda, e-mail, forum, ujian on-line, rencana pelatihan, penanggalan penting, menciptakan kamus on-line, power point presentasi, dll.
 5. Keuntungan-keuntungan menggunakan e-learning sebagai pendukung pembelajaran di kelas;
a)      E-learning sebagai pendukung pembelajaran kelas.
ICT sebagai pendukung pembelajaran didalam kelas pada umumnya, yang diantaranya mempunyai keuntungan sebagai berikut:
-          Mudah mengakses dimanapun dan kapanpun berada.
-          Memanfaatkan sedikit kertas yang berarti akan semakin banyak pohon.
-          Dapat memungkinkan menggunakan metode modern.
-          Secara individu dapat menentukan ketertarikan, level dan kebutuhan yang berbeda
b)       Dimensi etika penggunaan Bahasa
Di setiap negara dan budaya masing-masing mempunyai etika berbicara yang berbeda, tentang intonasi dan penggunaan (pemilihan) kata yang tepat. Dalam pribahasa China “guru yang membuka pintu, tetapi kamu harus memasukinya sendiri.” Tugas guru adalah untuk mendorong siswa. Tidak hanya kosakata yang baru yang diajarkan namun juga sebuah pelatihan bahasa yang baik yang harus diberikan pada peserta didik. Hal ini menjadi pertimbangan bahwa kesiapan informasi dan perolehan berita pada siswa kita melalui Bahasa yang baru bagi mereka memberi mereka sebuah kesempatan untuk diberitahukan dan membentuk opini mereka pada topic yang penting yang berkaitan tentang masyarakat kita. Banyak ahli sosiologi terkenam dan meneliti ( contohnya Cronin 2002, Pym 2005)  telah menekankan bahwa tidak cukup hanya dengan “mempunyai” sebuah opini namun seseorang yang terdidik juga harus “mengekspresikannya pada bentuk masyarakat dimana kita tinggal”. Memang banyak ilmu pengetahuan dan pemikiran di era modern dimana penggunaan Jaringan (Web) dubia dikaitkan pada siapa yang mempunyai informasi pertama kali. Dan siapa yang lain yang harus didukung untuk mempelajarinya, untuk menggunakannya, untuk kapasitas terbaiknya dan semua prinsip etika yang mengikuti pada siswa yang belajar Bahasa asing tersebut. Yang dibanyak cara menjadi panutan dalam masyarakatnya atau budayanya.
c)      Bangunan kepercayaan
Anatole France mengatakan “ sembilan dari sepuluh tentang pendidikan adalah dorongan semangat”. Tidak akan ada dorongan semangat tanpa adanya kepercayaan (cf. Kiggins and Cambourne 2007:374 in 2.2). seperti halnya pengajaraan pada umumnya, e-learning dapat diorganisir dengan cara yang berbeda. Misalnya: lingkungan kesiapan yang diciptakan guru, kendali guru, pengisian jawaban oleh siswa, perolehan nilai (bahwa guru dapat menggendalikan computer siswa ketika bekerjasama pada computer dikelas). Yang bertentangan dengan hal ini bahwa harus memilih pelatihan pada prinsip kepercayaan. Kita percaya bahwa para siswa dapat me-manage hampir semua proses pembelajarannya secara dewasa.
d)     Pembentukan rasa kebersamaan
Pada pendidikan ditempat lain, mengembangkan kerjasama dan melalaikan kekakuan menjadi  semakin terlatih menjadi biasa. Seperti pendekatan yang membantu siswa untuk memperoleh motivasi. Cocea and Weibelzahl (2006:2-3) menggarisbawahi kaitan Antara e-learning san Social Cognitive Learning Theory SCT (teori pembelajaran masyarakat/social). Dalam sudut pandangnya, kepribadian adaptasi tutorial yang efektif dan pembelajaran kolaborasi, motivasi yang sangat baik pada semua aspek juga menekankan pada meningkatkan kepuasan siswa dan kualitas belajar.
Kepribadian bertujuan untuk membuat pembelajaran lebih efektif dan memuaskan dengan adaptasi  kebutuhan dan pilihan siswa. Diantara manfaat motivasi siswa adalah: mempertinggi motivasi dan keterlibatan, penguasaan siswa yang membuat mereka lebih bertanggung jawab dan aktif, mengembangkan kepuasan kualitas pembelajaran yang lebih baik dan lain-lain.
SCT juga sesuai dengan pembelajaran kolaborasi, memberi kerangka kerja social pada pengambilan pertimbangan melalui teori dan cara pembelajaran ini yang dipengaruhi oleh konteks social. Agak berlawanan terhadap apa yang kadang diharapkan dari web-berbasis lingkungan, pengalaman memperlihatkan bahwa web-berbasis lingkungan seringkali berhubungan dengan siswa dalam kelompok. Menawarkan mereka kemungkinan untuk berkomunikasi pada sebuah lingkungan yang alami untuk mereka, pelatihan berbasis web, jika membangun pada sebuah cara bahwa kemampuan siswa untuk berpartisipasi dan terbuka. Hal ini juga menyediakan untuk bergabung pada terminology yang berbeda, group parallel yang berbeda (contohnya: grup A dan grup B belajar pada subyek yang sama), siswa yang berbeda tingkatan tahun belajar pada subyek yang sama. Hal ini dapat menjadi pendukung melalui bantuan siswa menciptakan database bersama. pada permasalahannya bahwa perbedaan presentasi powerpoint dalam menciptakan pembelajaran pada tahun yang berbeda pada kelompok parallel. Penganalisaan pelajaran yang telah berlangsung dan saat ini dapat dilihat bahwa Web berbasis lingkungan dapat membantu mengembangkan rasa kepemilikan bersama. Dalam tambahan untuk aktifitas pembelajaran yang biasa yang telah disebutkan diatas, dapat dilakukan melalui dokumentasi kegiatan yang berbeda, seperti belajar kunjungan atau mengunjungi museum, kelompok belajar dapat share, berdiskusi dan menganalisa hasilkunjungan melalui Web, yang juga mengembangkan rasa kebersamaan. Hal itu dapat juga dilakukan untuk berbagi informasi tentang diri mereka masing-masing melalui group. Siswa dapat berbagai banyak informasi secara digital sehingga bisa dijadikan landasan untuk sebuah hubungan baik dalam kelas. Penting untuk diingat bahwa ICT dapat juga membantu menciptakan “jembatan” khusus Antara periode belajar, tahun belajar yang berbeda dan kelompok belajar yang berbeda dan membantu mempertajamperasaan “kekamian”.
                         III.                        Kesimpulan
Gunnar Handahl (2004,2007) menggaris bawahi pentingnya dimensi pendidikan; level 1: beraksi(berangkat dan mengajar), level 2: teori dan praktek (alasan mengajar, latar belakang, pengetahuan pedagogi, kemampuan metodologis, pengalaman sebagai guru, pengalaman mentransfer ilmu), level 3; nilai (dasar pembenaran etika dan politik).
Selama bertahun-tahun dalam pelaksanaan belajar mengajar sebagai seorang guru dalam kelompok belajar yang berbeda, partisipasi para peserta juga membantu menganalisa dan membentuk proses. Harapannya, bersandar pada teori yang lebih dalam, prinsip-prinsip dan etika-etika dapan mensuport siswa dalam membuat pilihan yang penuh arti.
Dengan pengembangan Web 2.0 and 3.0 masih saja untuk para novelis, pengembangan dan perubahan yang tidak ada habis-habisnya. Siswa semakin menjadi bertaut,komunikasi dan pembelajaran teacher center semakin berkurang. Dalam perkembangannya peran para guru, para siswa, dan pembelajaran itu sendiri secara berkelanjutan berubah untuk menggantikan metode pembelajaran yang ada untuk perkembangan lebih jauh. Banyak dari perkembangan ini ditemukan pada proses kerjasama dengan para siswa dan para praktisi pendidikan dari seluruh dunia.
Harapannya, pendekatan student-center berdasarkan kepribadian, pengembangan motivasi siswa, dan tanggungjawab dapat di dukung dengan cara ini.

                         IV.            REFERENSI
Cocea, M. & Weibelzahl, S. (2006). Motivation – included or excluded from e-learning.
Cronin, M. (2002). The Empire Talks Back: Orality, Heteronomy and the Cultural Turn in Interpreting Studies. In F.
Day, C. & Sachs, J. (2004). Professionalism, performativity and empowerment: discourses in the politics, policies and purposes of continuing professional development. In: Day, C, Sachs, J. (Eds.), International Handbook on the Continuing Professional Development of Teachers. Open University Press. UK, Bell& Brain Ltd, Glasgow. 3-33.
Dörnyei, Z. (2001a). Teaching and Researching Motivation. Pearson Education Limited. Malaysia, LSP.
Dörnyei, Z. (2001b). Motivational Strategies in the Language Classroom. Cambridge University Press. UK.
Dörnyei, Z & Otto, I. (1998). Motivation in action: A process model of L2 motivation. Working Papers in Applied Linguistics (London: Thames Valley University), 4: 43-69.
Gardner, H. (1991). The unschooled mind. How children think and how schools should teach. New York: Basic Books.
Gee, J. P. (2008). Är videospel bra vid inlärning? / Are videogames good for knowledge acquisition?/ In: Kulturens Studia Generalia. Svenska kulturfonden. Oy Nord Print. 8-23.
Handahl, G. (2004/2007). Ethics of Teaching in Higher Education. Teacher trainer courses: Teaching in Higher Education given at Tartu University. Oslo University-Tartu University. University of Tartu, 2004-2007.
Hasanbegovic, J. (2005). Review of Martens, R. L et al (2004). The impact of intrinsic motivation on e-learning in authentic computer tasks. Journal of Computer Assisted Learning, Vol. 20, pp. 368–376.
Kiggins, J. & Cambourne, B. (2007). The knowledge building community program. In: T. Townsend, R. Bates (Eds.),
Pym, A. (2005). Action Research in Translation Studies. Paper presented at the conference New Research in
Theobald, M. (2006). Increasing Student Motivation. Strategies for Middle and High School Teachers. Corwin Press. A SAGE Publications Company, Thousand Oaks, California.
Springer, printed in the Netherlands. 3-25.
Wilson, J. D. (1981). Student Learning in Higher Education. Croom Helm London. New York – Toronto.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar